BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sesungguhnya bangsa Indonesia ini sudah
memiliki budaya kerja dalam pengertian sebagai pola bagi tindakan. Dalam
relasinya dengan dunia kerja masyarakat sudah memiliki dasar-dasar untuk
bekerja keras. Teks kerja keras tersebut dapat dilihat di dalam kaitannya
dengan ajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawai
dan ukhrowi. Seseorang tidak saja harus sepenuhnya mencari kebahagiaan di
akhirat tetapi juga harus mencari kebahagiaan di dalam kehidupan duniawi.
Sebagai contoh budaya kerja
yang dianut oleh masyarakat indonesia adalah integritas, etos kerja, dan gotong
royong yang sebagaimana di sebutkan oleh kementerian pariwisata arief yahya.
Budaya kerja ini diharapkan menjadi tonggak dimulainya pembangunan
karakter dan sikap yang tidak melakukan
korupsi, sehingga menjadi motor penggerak penguatan sektor pariwisata. Maka dari itu sangat
penting sekali bagi generasi penerus bangsa khususnya para mahasiswa untuk
mengetahui budaya kerja bangsa Indonesia.
B.
Rumusa Masalah
1.
Apa itu budaya kerja dan bagaimana penerapannya
di dalam suatu industri?
2.
Apa saja jenis-jenis budaya kerja yang bisa di terapkan oleh karyawan?
3.
Apa manfaat budaya kerja di dalam industri pariwisata?
C.
Tujuan
1.
Menjelaskan apa itu budaya kerja dan bagaimana penerapannya.
2.
Menyebutkan jenis-jenis budaya kerja.
3.
Manfaat budaya keja bagi industri pariwisata.
D.
Manfaat
1.
Mahasiswa dapat menggunakan penjelasan ini untuk di implementasikan/bekerja
pada perusahaan.
2.
Mahasiswa dapat mengetahui apa saja yang diperlukan dalam menciptakan
budaya organisasi dan budaya kerja.
3.
Mengetahui manfaat dan karakteristik dalam budaya organisasi dan budaya
kerja.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan
berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak
dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan
budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang
berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan
juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.Budaya secara
harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan
tanah, mengolah, memelihara ladang (menurut Soerjanto Poespowardojo 1993).
Menurut The American
Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan
dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama,
kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok
manusia.
Menurut Koentjaraningrat
budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara
belajar.
Dari berbagai definisi
tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang
akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah
benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa
perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa,
peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.
B.
Pengertian budaya kerja
Budaya Kerja adalah suatu
falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi
sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan
tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta
tindakan yang terwujud sebagai kerja. (Sumber : Drs. Gering Supriyadi, MM dan
Drs. Tri Guno, LLM )
Secara konseptual, budaya
kerja secara tekstual tersebut dapat digambarkan, yaitu:
1)
Integritas dan profesionalisme,
Integritas dan profesionalisme yaitu konsisten dalam
kata dan perbuatan serta ahli dalam bidangnya. Orang yang memiliki integritas
kepribadian, maka dia akan melakukan sesuatu yang sesuai antara apa yang
diucapkan dan apa yang dilakukan.
Kepribadian ini muncul dari keyakinan bahwa bekerja
tidak semata untuk meraih prestasi keduniawaian tetapi juga memiliki makna
keukhrawian atau ibadah. Bekerja yang didasari oleh semangat ibadah akan
menyebabkan orang bekerja tanpa pamrih untuk kepentingan individu tetapi untuk
kepentingan kebersamaan. Selain itu juga memiliki kemampuan yang seimbang. Dia
akan bekerja dengan pengetahuan, sikap dan keahliannya.
2)
Kepemimpinan dan keteladanan,
Kepemimpinan dan keteladanan yaitu mampu
mendayagunakan kemampuan potensi bawahan secara optimal. Jika ketepatan diberi
kekuatan untuk menjadi pemimpin maka tidak akan memanfaatkannya untuk bekerja
secara otoriter tetapi secara partisipatif. Seseorang akan secara maksimal
mendayagunakan bawahannya sebagai partner untuk mencapai visi dan misi
institusi. Selain itu juga berlaku sebagai teladan. Menjadi teladan dalam kerja
keras, tanggungjawab, dan kedisiplinan dan sebagainya.
3)
Kebersamaan dan dinamika kelompok,
Kebersamaan dan
dinamika kelompok yaitu mendorong agar cara kerjanya tidak bersifast individual
dan pusat kekuasaan tidak pada satu tangan. Sesuatu yang sangat sulit di dalam
relasi kerja adalah membangun kerja sama dalam kerja kelompok. Meskipun manusia
itu tahu bahwa tidak mungkin urusan diselesaikan secara individual, namun
demikian ketika harus bekerja sama terkadang mengalami kesulitan. Bayangkan
saja tidak ada manusia yang bisa memenuhi kebutuhannya secara sendiri kecuali
dalam relasinya dengan manusia lainnya. Ada ungkapan yang bagus yaitu TEAM,
Together Everyone Achieve More. Justru melalui kebersamaan seseorang akan
mendapatkan lebih banyak.
4)
Ketepatan dan kecepatan
Ketepatan dan kecepatan yaitu adanya kepastian waktu, kuantitas,
kualitas dan finasial yang dibutuhkan. Prinsip yang harus dijadikan sebagai
pedoman adalah semakin cepat semakin baik. Prinsip pelayanan yang harus
dikembangkan dalam suatu institusi adalah pelayanan prima yang berbasis
kecepatan dan ketepatan. Bukan prinsip gremet-gremet angger slamet atau
lambat-lambat tetapi selamat, tetapi cepet-cepet angger selamet. Makanya yang
diperlukan adalah kecepatan dan ketepatan.
Kerja yang cepat dan tepat merupakan kerja yang
menggunakan keturukuran yang jelas. Jika pekerjaan bisa diselesaikan sehari
maka akan diselesaikannya tepat waktu. Jika pekerjaan itu menghabiskan anggaran
tertentu, maka akan dilaksanakan sesuai dengan ukuran anggaran yang tepat. Jika
bisa seperti itu maka tidak akan terjadi kasus mark up dan sebagainya, juga
bukan kerja yang menjadikan sesuatu yang mudah menjadi sulit dan sebagainya.
5)
Rasionalitas dan kecerdasan emosi,
Rasionalitas dan kecerdasan emosi yaitu keseimbangan
antara kecerdasan intelektual dan emosional. Ternyata di dalam kehidupan ini
yang dibutuhkan bukan sekedar orang yang cerdas secara intelektual saja.
Kenyataannya banyak orang yang cerdas intelektual tetapi justru tidak berhasil
dalam kehidupannya. Kehidupan ini bukan hanya membutuhkan logika akan tetapi
juga kecerdasan emosi yang didasari oleh pemahaman tentang perasaan dan
kemanusiaan.
Melalui kecerdasan logika manusia akan menyatakan ya
atau tidak. Akan tetapi untuk menyatakan ya atau tidak tentu dibutuhkan
pertimbangan kemanusiaan. Melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual
dan emosional maka akan memunculkan keteguhan dan ketegasan. Dan yang tidak
boleh dilupakan adalah kecerdasan spiritual yang berbasis pada keyakinan dan
moralitas kebaikan. Dengan menggabungkan ketiganya dalam kerja maka seseorang
akan bisa meraih kebahagiaan yang memadai.
C.
Tujuan Atau Manfaat Budaya Kerja
Budaya kerja memiliki tujuan
untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM yang ada agar dapat meningkatkan
produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan
datang.
Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik antara
lain:
a)
Meningkatkan jiwa gotong royong.
b)
Meningkatkan kebersamaan.
c)
Saling terbuka satu sama lain.
d)
Meningkatkan jiwa kekeluargaan.
e)
Meningkatkan rasa kekeluargaan.
f)
Membangun komunikasi yang lebih baik.
g)
Meningkatkan produktivitas kerja.
h)
Tanggap dengan perkembangan dunia luar, dll.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Semua
sumber daya manusia harus dapat memahami dengan benar budaya kerjanya, karena
pemahaman ini sangat berkaitan dengan setiap langkah ataupun kegiatan yang
dilakukan, baik perencanaan yang bersifat strategis dan taktikal maupun
kegiatan impleentasi perencanaan, dimana setiap kegiatan tersebut harus
berdasar pada budaya kerja.
Pengaruh
budaya kerja terhadap kinerja sudah banyak dilakukan di masa lalu, baik yang
dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri, baik pada organisasi bisnis
maupun pada organisasi publik. Peneliti Kotter dan Heskett (1997) yang berjudul
Corporate Culture and Performance menyimpulkan bahwa (1) Budaya perusahaan
mempunyai pengaruh yang sangat dominant terhadap sukses tidaknya perusahaan
membangun kinerja karyawan. (2) Budaya kerja mempunyai dampak positif terhadap
kinerja ekonomi perusahaan. (3) Budaya kerja dapat diciptakan dan dibentuk
untuk meningkatkan kinerja organisasi.
Mungkin
hanya ini hasil diskusi kami mengenai budaya kerja di bidang pariwisata untuk melengkapi tugas dari
mata kuliah etika profesi kali ini,
hasil diskusi kami ini bukan harga mati yang semata-mata mutlak benar, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari dosen kami atau para pembaca untuk
melengkapi hasil makalah kami ini.
B.
Saran
Untuk
mencapai suatu tujuan denga mudah, efisien, cepat, dan maksimal dalam suatu
industri khususnya bidang pariwisata yang kita bahas kali ini akan sangat
bermanfaat jika kita menerapkan ilmu budaya kerja bangsa kita yang sebagaimana
nenek moyang kita melakukan budaya kerja gotong royong yang bersatu padu
menggapai tujuan mereka secara bersama-sama. Maka dari itu kenapa kita tidak
meneruskan budaya mereka yang memberikan kita kemudahan dan ketenangan dalam
bekerja
Daftar
Pustaka
Pettigrew, andrew. 2008. Journal
Science Quarterly.
Indra, 18 februari. 2016. kemenpar genjot pariwisata dengan tingkatkan
budaya kerja
http://www.detik.com/kemenpar-genjot-pariwisata-dengan-tingkatkan-budaya-kerja
Gering, supriyadi dan
trigono. 2002. Pengembangan budaya kerja
aparatur negara. Jakarta. Kementerian pendayagunaan aparatur negara.
Ahmad. 2015. Budaya
kerja organiasi pemerintah. Seminar KORPRI 7 November 2001
Teori budaya kerja. www.etheses.uin-malang.ac.id
Definisi Budaya Kerja Dan Tujuan Penerapannya Pada
Lingkungan Sekitar http://www.organisasi.org/

0 komentar:
Posting Komentar